Nama :
Edwin Jefry Adolf Hasibuan
NIM
: 15514068
Prodi
: Teknik Kelautan ITB
Mata Kuliah : Bahan Bangunan Laut
Dosen :
Eko Charnius S.T., M.T.
GEDUNG SATE
Arsitektur Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber
dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek Belanda
Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional
Nusantara.
Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan
Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya
arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl), sehingga tidak
mustahil bila keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedung Sate.Dari data
teknis, konstruksi bangunan Gedung Sate memang menggunakan cara konvensional,
lebih banyak memakai batu alam dan bata dibanding konstruksi beton. Meskipun
demikian, proses pembangunannya ditangani secara profesional dengan
memperhatikan standar teknik, material bangunan yang tepat menurut aturan dan
ketentuan.
Maestro arsitek Belanda Dr. H.P, Berlage juga menyebutkan
rancangan GB atau Gedung Sate suatu karya arsitektur yang besar. Komentarnya
saat mengunjungi Gedung Sate pada April 1923, Gedung Sate mengingatkan pada
gaya arsitektur Italia di masa renaissance terutama bangunan sayap barat,
Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan mirip atap meru atau Pagoda. Ini
merupakan ungkapan arsitektur yang berhasil memadukan langgam Timur dan Barat
secara harmonis.
Kuat dan utuhnya Gedung
Sate hingga kini, tidak terlepas dari bahan dan teknis konstruksi yang dipakai.
Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m) yang
diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Konstruksi bangunan Gedung
Sate menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan
standar teknik.
Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas
bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553
m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976
m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².
Untuk material yang dipakai dalam
konstruksi gedung sate, saya memperkirakan material-material sebagai berikut:
1. Beton
2. Baja tulangan
3. Kayu
4. Batu ukiran
Untuk proporsi material dari bangunan
tersebut saya memperkirakan sebagai berikut :
1. Beton 90 %
2. Baja tulangan 25%
3. Kayu 10%
4. Batu ukiran 5%
Berikut saya akan menjelaskan 2 material utama
dari bangunan tersebut yaitu beton dan baja tulangan :
I.
Cara Pembuatan
Beton
Ø
Sebelum Pengecoran
Pengujian
Material
Sebelum pengecoran, dilakuakn terlebih dahulu penyiapan material dan
pengjian sebagian material (terutama material utama, yaitu : semenportland,
air, agregat halus dan agregat kasar) serta bahan tambahan yang
digunakan.
Pengujian tersebut adalah :
Semen Portland
· Berat jenis semen
· Kehalusan semen
· Konsistensi normall
· Waktu ikat/setting
time
· Berat isi semen
Air
· pH
· sifat – sifat air
Agregat Kasar dan Agregat Halus
· Berat Jenis dan
penyerapan agregat kasar
· Berat jenis dan
penyerapan agregat halus
· Berat isi agregat
· Kadar organic
agregat
· Kadar lumpur Agregat
· Kadar air agregat
· Bulking faktor
Persiapan silica fume
Sebelum
digunakan untuk pengecoran, silica fume yang telah disipakan sesuai
takarandicampur dengan air sampai berbentuk slurry, dengan metode pencampuran
mekanis menggunakan mixer, pencampuran tersebut dilakukan sampai benar – benar
tercampur merata tanpa adanya gumpalan – gumpalan.
Persiapan air
Air yang
digunakan bersuhu 27o C, setelah dipersiapkan sesuai kebutuhan,
kemudian kami tambahkan superplasticizer dan kemudian diaduk sampai merata
(homogen).
Persiapan agregat
Meskipun kadar
lumpur dalam agregat memenuhi syarat, masih perlu pencucian secara konvensional
dengan mengaduk pasir didalam wadah besar berisi air supaya kadar lumpurnya
hilang, kemudian ditiriskan, dilakukan selam 3 kali berturut-turut, pencucian
tersebut dilakukan setelah diadakan pengujian kadar lumpur. Agregat hasil
pengujian didiamkan sampai SSD baru kemudian diadakan pengjian (agregat) yang
lainnya.
Karena agregat
yang dipersiapkan dipilih (dibeli) secara acak mak perlu dilakukan penggabungan
agregat, disamping untuk mendapatkan gradasi yang baik (well graded), juga
untuk memenuhi criteria zona 1, seperti yang tertera dalam mix design. Untuk
analisa gradasi agregat halus dan agregat kasar diperlakukan menurut gradasi
ASTM C-33-78. Untuk penggabungannya dilakukan dengan metode Road Note Number 4
(RN-4)
Ø Selama
Pengecoran (Pembuatan Beton)
Pembuatan
beton dilakukan didalam ruangan yang terlindung dari panas matahari secara
langsung. Pengdukannya menggunakan mesin pengaduk (mixer), bertenaga listrik.
Bahan-bahan dimasukkan kedalam mesin pengaduk agregat halus dan semen
Putih secara
bersamaan, dan diaduk selama 5 menit dengan tujuan agar terjadi agregat
tercampur secara homogeny dan merata.
Kemudian ditambahkan silica fume yang berbentuk
slurry, dan diaduk selama 5 menit. Setelah seluruh bahan-bahan
kering tercampur secara homogeny, mulai menambahkan secara bertahap agregat
kasar berturut-turut air yang telah dicampur dengan superplasticizer dimasukkan
kemudian diaduk selama 15 menit.
Setelah
menjadi campuran beton, adukan tersebut dituang ke wadah yang kemudian di
masukkan kedalam cetakan silinder, tiap pemasukan 10 cm ditumbuk dengan besi
penumbuk selama 25 kali secara merata hal tersebut dilakukan sampai cetakan
benda uji terisi penuh, pengecoran benda uji tersebut dilakukan pada meja
penggetar (vibrator).
Ø Setelah
pengecoran
Setelah 1 hari
(24 jam) benda uji tersebut dikeluarkan dari cetakan dan kemudian direndam
dalam air tawar yang bersih bersuhu 27oC (sama dengan air yang
digunakan dalam pengecoran), meskipun terjadi fluktuasi suhu air antara malam
hari dan siang hari tetapi sangat kecil, berkisar 1 sampai 2oC, di
malam dan pagi hari cenderung lebih dingin daripada siang hari.
II.
Cara Pembuatan Baja
Proses Pembuatan Baja
-Pembuatan Besi Kasar
Bahan utama untuk membuat besi
kasar adalah bijih besi. Berbagai macam bijih besi yang terdapat di dalam kulit
bumi berupa oksid besi dan karbonat besi, diantaranya yang terpenting adalah
sebagai berikut.
1. Batu
besi coklat (2Fe2O3 + 3H2O) dengan kandungan besi berkisar 40%.
2. Batu
besi merah yang juga disebut hematit (Fe2O3) dengan kandungan besi berkisar
50%.
3. Batu
besi magnet (Fe2O4) berwarna hijau tua kehitaman, bersifat magnetis dengan
mengandung besi berkisar 60%.
4. Batu
besi kalsit atau spat (FeCO3) yang juga disebut sferosiderit dengan mengandung
besi berkisar 40%.
Bijih besi dari tambang
biasanya masih bercampur dengan pasir, tanah liat, dan batu-batuan dalam
bongkah-bongkahan yang tidak sama besar. Untuk kelancaran proses pengolahan
bijih besi, bongkah-bongkah tersebut dipecahkan dengan mesin pemecah, kemudian
disortir antara bijih besih dan batu-batuan ikutan dengan tromol magnet.
Pekerjaan selanjutnya adalah mencuci bijih besi tersebut dan mengelompokkan
menurut besarnya, bijih-bijih besi halus dan butir-butir yang kecil diaglomir
di dalam dapur sinter atau rol hingga berupa bola-bola yang dapat dipakai
kembali sebagai isi
dapur.
Setelah bijih besi itu dipanggang di dalam dapur panggang agar kering dan
unsur-unsur yang mudah menjadi gas keluar dari bijih kemudian dibawa ke dapur
tinggi diolah menjadi besi kasar. Dapur tinggi mempunyai bentuk dua buah
kerucut yang berdiri satu di atas yang lain pada alasnya. Pada bagian atas
adalah tungkunya yang melebar ke bawah, sehingga muatannya dengan mudah
meluncur kebawah dan tidak terjadi kemacetan. Bagian bawah melebar ke atas
dengan maksud agar muatannya tetap berada di bagian ini.
Dapur tinggi dibuat dari susunan batu tahan api yang diberi selubung baja pelat
untuk memperkokoh konstruksinya. Dapur diisi dari atas dengan alat pengisi.
Berturut-turut dimasukkan kokas, bahan tambahan (batu kapur) dan bijih besi.
Kokas adalah arang batu bara yaitu batu bara yang sudah didestilasikan secara
kering dan mengandung belerang yang sangat rendah sekali. Kokas berfungsi
sebagai bahan bakarnya dan membutuhkan zat asam yang banyak sebagai pengembus.
Agar proses dapat berjalan dengan cepat udara pengembus itu perlu dipanaskan
terlebih dahulu di dalam dapur pemanas udara. Proses pada dapur tinggi seperti
dalam gambar 1.
Besi cair di dalam dapur tinggi, kemudian dicerat dan dituang menjadi besi
kasar, dalam bentuk balok-balok besi kasar yang digunakan sebagai bahan ancuran
untuk pembuatan besi tuang (di dalam dapur kubah), atau dalam keadaan cair
dipindahkan pada bagian pembuatan baja di dalam konvertor atau dapur baja yang
lain, misalnya dapur Siemen Martin.
Batu kapur sebagai bahan tambahan gunanya untuk mengikat abu kokas dan
batu-batu ikutan hingga menjadi terak yang dengan mudah dapat dipisahkan dari
besi kasar. Terak itu sendiri di dalam proses berfungsi sebagai pelindung
cairan besi kasar dari oksida yang mungkin mengurangi hasil yang diperoleh
karena terbakarnya besi kasar cair itu. Batu kapur (CaCO3) terurai mengikat
batu-batu ikutan dan unsur-unsur lain.
-Proses dalam dapur tinggi
Prinsip dari proses dapur tinggi adalah prinsip reduksi. Pada proses ini zat
karbon monoksida dapat menyerap zat asam dari ikatan-ikatan besi zat asam pada
suhu tinggi. Pada pembakaran suhu tinggi + 1800ᵒ C dengan udara panas,
maka dihasilkan suhu yang dapat menyelenggarakan reduksi tersebut.
Agar tidak terjadi pembuntuan karena proses berlangsung maka diberi batu kapur
sebagai bahan tambahan. Bahan tambahan bersifat asam apabila bijih besinya
mempunyai sifat basa dan sebaliknya bahan tambahan diberikan yang bersifat basa
apabila bijih besi bersifat asam.
Gas yang terbentuk dalam dapur tinggi selanjutnya dialirkan keluar melalui
bagian atas dan ke dalam pemanas udara. Terak yang menetes ke bawah melindungi
besi kasar dari oksida oleh udara panas yang dimasukkan, terak ini kemudian
dipisahkan.
Setiap 4 sampai 6 jam dapur tinggi dicerat, pertama dikeluarkan teraknya dan
baru kemudian besi. Besi yang keluar dari dapur tinggi disebut besi kasar atau
besi mentah yang digunakan untuk membuat baja pada dapur pengolahan baja atau
dituang menjadi balok-balok tuangan yang dikirimkan pada pabrik-pabrik
pembuatan baja sebagai bahan baku.
-Pembuatan Baja dari Besi
Kasar
Besi kasar sebagai hasil dari
dapur tinggi masih banyak mengandung unsur-unsur yang tidak cocok untuk bahan
konstruksi, misalnya zat arang (karbon) yang terlalu tinggi, fosfor, belerang,
silisium dan sebagainya. Unsur-unsur ini harus serendah mungkin dengan berbagai
cara.
Berikut ini diagram pembuatan
baja:
Untuk menurunkan kadar karbon
dan unsur tambahan lainnya dari besi kasar digunakan dengan cara sebagai
berikut.
1. Proses
Konvertor
Terdiri dari satu tabung yang berbentuk bulat lonjong dengan menghadap
kesamping.
Sistem kerja
- Dipanaskan dengan kokas sampai ± 1500 0C,
- Dimiringkan untuk memasukkan bahan baku baja. (± 1/8 dari volume
konvertor)
- Kembali ditegakkan.
- Udara dengan tekanan 1,5 – 2 atm dihembuskan dari kompresor.
- Setelah 20-25 menit konvertor dijungkirkan untuk mengelaurkan
hasilnya.
Proses konverter terdiri dari:
a. Proses Bessemer
untuk besi kasar dengan kadar fosfor yang rendah.
Konvertor Bessemer adalah
sebuah bejana baja dengan lapisan batu tahan
api yang bersifat asam.
Dibagian atasnya terbuka sedangkan pada bagian
bawahnya terdapat sejumlah
lubang-lubang untuk saluran udara. Bejana ini
dapat diguling-gulingkan.
Korvertor Bessemer diisi dengan besi kasar kelabu yang banyak mengandung
silisium. Silisium dan mangan terbakar pertama kali, setelah itu baru zat arang
yang terbakar. Pada saat udara mengalir melalui besi kasar udara membakar zat
arang dan campuran tambahan sehingga isi dapur
masih tetap dalam keadaan
encer.
Setelah lebih kurang 20 menit, semua zat arang telah terbakar dan terak yang
terjadi dikeluarkan. Mengingat baja membutuhkan karbon sebesar 0,0 sampai 1,7
%, maka pada waktu proses terlalu banyak yang hilang terbakar,
kekurangan itu harus ditambahy
dalam bentuk besi yang banyak mengandung karbon.
Dengan jalan ini kadar karbon
ditingkatkan lagi. dari oksidasi besi yang terbentuk dan mengandung zat asam
dapat dikurangi dengan besi yang
mengandung mangan.
Udara masih dihembuskan ke
dalam bejana tadi dengan maksud untuk mendapatkan campuran yang baik. Kemudian
terak dibuang lagi dan selanjutnya muatan dituangkan ke dalam panci penuang.
Pada proses Bessemer menggunakan besi kasar dengan kandungan fosfor dan
belerang yang rendah tetapi kandungan fosfor dan belerang masih tetap agak
tinggi karena dalam prosesnya kedua unsur tersebut tidak terbakar sama sekali.
Hasil dari konvertor Bessemer
disebut baja Bessemer yang banyak digunakan untuk bahan konstruksi. Proses
Bessemer juga disebut proses asam karena muatannya bersifat asam dan batu tahan
apinya juga bersifat asam. Apabila digunakan muatan yang bersifat basa lapisan
batu itu akan rusak akibat reaksi penggaraman.
b. Proses Thomas
untuk besi kasar dengan kadar fosfor yang tinggi.
Konvertor Thomas juga disebut
konvertor basa dan prosesnya adalah proses basa, sebab batu tahan apinya
bersifat basa serta digunakan untuk mengolah besi kasar yang bersifat basa.
Muatan konvertor Thomas adalah besi kasar putih yang banyak mengandung fosfor.
Proses pembakaran sama dengan
proses pada konvertor Bessemer, hanya
saja pada proses Thomas fosfor
terbakar setelah zat arangnya terbakar. Pengaliran udara tidak terus-menerus
dilakukan karena besinya sendiri akan terbakar. Pencegahan pembakaran itu dilakukan
dengan menganggap selesai prosesnya walaupun kandungan fosfor masih tetap
tinggi.
Guna mengikat fosfor yang
terbentuk pada proses ini maka diberi bahan tambahan batu kapur agar menjadi
terak. Terak yang bersifat basa ini dapat dimanfaatkan menjadi pupuk buatan
yang dikenal dengan nama pupuk fosfat. Hasil proses yang keluar dari konvertor
Thomas disebut baja Thomas yang biasa digunakan sebagai bahan konstruksi dan
pelat ketel.
c. Proses
Basic Oxygen Furnance
Proses Oksi yaitu:
1. Logam
cair dimasukkan ke ruang baker (dimiringkan lalu ditegakkan).
2. Oksigen
(± 1000) ditiupkan lewat Oxygen Lance ke ruang bakar dengan
kecepatan tinggi. (55 m3 (99,5 %O2) tiap satu ton
muatan) dengan tekanan 1400 kN/m2.
3. Ditambahkan
bubuk kapur (CaO) untuk menurunkan kadar P dan S.
Proses konvertor yang lebih
modern adalah proses oksi, pada proses ini menggunakan bahan besi kasar yang
mempunyai komposisi kurang baik apabila dikerjakan dengan konvertor Bessemer
maupun Thomas. Disini zat asam murni dihembuskan di atas cairan dan
kadang-kadang juga kedalam cairan besi, sehingga karbon, silisium, mangan dan
sebagainya terbakar. Hasil pembakaran unsur-unsur tersebut ditampung oleh bahan
tambahan batu kapur dan terikat menjadi terak yang mengapung di atas cairan
besi.
Proses pembakaran zat asam
dengan zat arang terjadi pada panas yang tinggi sekali, maka diperlukan
pendinginan dengan jalan memberikan tambahan baja bekas. Hasil akhir dari
proses ini adalah baja oksi yang bermutu sangat baik karena pengaruh buruk dari
unsur udara tidak ada. Oleh karena itu baja oksi baik sekali digunakan sebagai
bahan pembuatan konstruksi dan komponen-komponen mesin, seperti : poros, baut,
pasak, batang penggerak dan lain-lainnya.
Keuntungan dari proses oksi
adalah sebagai berikut :
a. Waktu proses relatif
pendek.
b. Hasilnya mengandung fosfor
(P)dan belerang (S) yang rendah.
c. Hasil yang diproduksi
relatif lebih banyak dalam tempo yang sama
dibanding proses lainnya.
d. Biaya produksi baja tiap
ton lebih murah.
2. Proses
Martin (dapur Siemen Martin)
Proses lain untuk membuat baja
dari bahan besi kasar adalah menggunakan dapur Siemens Martin yang sering
disebut proses Martin. Dapur ini terdiri atas satu tungku untuk bahan yang
dicairkan dan biasanya menggunakan empat ruangan sebagai pemanas gas dan udara.
Pada proses ini digunakan muatan besi bekas yang dicampur dengan besi kasar
sehingga dapat menghasilkan baja dengan kualitas yang lebih baik jika
dibandingkan dengan baja Bessemer maupun Thomas.
Proses Martin menggunakan sistem regenerator (± 3000 0C.). Fungsi dari
regenerator adalah:
· memanaskan gas dan udara atau menambah temperatur dapur
· sebagai Fundamen/
landasan dapur
· menghemat pemakaian
tempat
· bisa digunakan baik
besi kelabu maupun putih,
Ø besi kelabu dinding dalamnya dilapisi batu silika
(SiO2),
Ø besi putih dilapisi dengan batu dolomit (40 % MgCO3 +
60 % CaCO3)
Proses Martin dibagi menjadi
dua yaitu:
a. Proses Martin
asam untuk besi kasar dengan kadar fosfor rendah.
b. Proses Martin
basa untuk besi kasar dengan kadar fosfor tinggi.
Gas yang akan dibakar dengan
udara untuk pembakaran dialirkan ke dalam ruangan-ruangan melalui batu tahan
api yang sudah dipanaskan dengan temperatur 600 sampai 900ᵒ C. dengan
demikian nyala apinya mempunyai suhu yang tinggi, kira-kira 1800ᵒ C. gas
pembakaran yang bergerak ke luar masih memberikan panas kedalam ruang yang
kedua, dengan menggunakan keran pengatur maka gas panas dan udara pembakaran
masuk ke dalam ruangan tersebut secara bergantian dipanaskan dan didinginkan.
Bahan bakar yang digunakan
adalah gas dapur tinggi, minyak yang digaskan (stookolie) dan juga gas
generator. Pada pembakaran zat arang terjadi gas CO dan CO2 yang naik ke atas
dan mengakibatkan cairannya bergolak, dengan demikian akan terjadi hubungann
yang erat antara api dengan bahan muatan yang dimasukkan ke dapur tinggi. Bahan
tambahan akan bersenyawa dengan zat asam membentuk terak yang menutup cairan
tersebut sehingga melindungi cairan itu dari oksida lebih lanjut.
Setelah proses berjalan selama
6 jam, terak dikeluarkan dengan memiringkan dapur tersebut dan kemudian baja
cair dapat dicerat. Hasil akhir dari proses Martin disebut baja Martin. Baja
ini bermutu baik karena komposisinya dapat diatur dan ditentukan dengan teliti
pada proses yang berlangsung agak lama.
Lapisan dapur pada proses
Martin dapat bersifat asam atau basa tergantung dari besi kasarnya mengandung
fosfor sedikit atau banyak. Proses Martin asam teradi apabila mengolah besi
kasar yang bersifat asam atau mengandung fosfor rendah dan sebaliknya dikatakan
proses Martin basa apabila muatannya bersifat basa dan mengandung fosfor yang
tinggi.
Keuntungan dari proses Martin
dibanding proses Bessemer dan Thomas adalah sebagai berikut :
a. Proses
lebih lama sehingga dapat menghasilkan susunan yang lebih baik
dengan jalan
percobaan-percobaan.
b. Unsur-unsur
yang tidak dikehendaki dan kotoran-kotoran dapat
dihindarkan atau dibersihkan.
c. Penambahan
besi bekas dan bahan tambahan lainnya pada akhir proses menyebabkan susunannya
dapat diatur sebaik-baiknya.
Selain keuntungan di atas dan
karena udara pembakaran mengalir di atas cairan maka hasil akhir akan sedikit
mengandung zat asam dan zat lemas. Proses Martin basa biasanya masih mengandung
beberapa kotoran seperti zat asam, belerang, fosfor dan sebagainya. Sedangkan
pada proses Martin asam kadar kotoran-kotoran tersebut lebih kecil.
3. Dapur
Listrik untuk baja Campuran
Dapur listrik digunakan untuk
pembuatan baja yang tahan terhadap suhu
tinggi. Dapur ini mempunyai
keuntungan-keuntungan sebagai berikut,
a. Jumlah
panas yang diperlukan dapat dapat diatur sebaik-baiknya.
b. Pengaruh
zat asam praktis tidak ada.
c. Susunan
besi tidak dipengaruhi oleh aliran listrik.
d. Mudah
mencapai temperatur tinggi dalam waktu singkat
e. Temperatur
dapat diatur
f. Efisiensi
termis dapur tinggi
g. Cairan
besi terlindungi dari kotoran dan pengaruh lingkungan sehingga kualitasnya baik
h. Kerugian
akibat penguapan sangat kecil
Proses dapur listrik dibagi
menjadi:
a. Dapur listrik
busur nyala api.
Dapur ini berdasarkan prinsip
panas yang memancar dari busur api, dapur ini juga dikenal dengan sebutan dapur
busur nyala api. Dapur ini merupakan suatu tungku yang bagian atasnya
digantungkan dua batang arang sebagai elektroda pada arus bolak-balik atau
dengan tiga buah elektroda arang yang dialirkan arus putar. Misalnya pada dapur
Stassano busur api terjadi antara tiga ujung elektroda arang yang berada di
atas baja yang dilebur melalui ujung elektroda itu dengan arus putar. Pada
dapur Girod, arus bolak balik mengalir melalui satu elektroda yang membentuk
busur api di antara kutub dan baja cair selanjutnya dikeluarkan melalui enam
buah elektroda baja yang didinginkan dengan air ke dasar tungku. Pada dapur
Heroult menggunakan dua elektroda arang dengan arus bolakbalik dan dapat juga
menggunakan tiga buah elektroda pada arus putar. Arus listrik membentuk busur
nyala dari elektroda kepada cairan dan kembali dari cairan ke elektroda
lainnya.
b. Dapur listrik
induksi.
Dapur induksi dapat dibedakan
atas dapur induksi frekuensi rendah dan
dapur induksi frekuensi
tinggi. Pada dapur induksi dibangkitkan suatu arus induksi dalam cairan baja
sehingga menimbulkan panas dalam cairan baja itu sendiri sedangkan dinding
dapurnya hanya menerima pengaruh listrik yang kecil saja.
I. Dapur
induksi frekuensi rendah, bekerja menurut prinsip transformator. Dapur
ini berupa saluran keliling teras dari baja yang beserta isinya dipandang
sebagai gulungan sekunder transformator yang dihubungkan singkat, akibat
hubungan singkat tersebut di dalam dapur mengalir suatu aliran listrik yang
besar dan membangkitkan panas yang tinggi. Akibatnya isi dapur mencair dan
campuran-campuran tambahan dioksidasikan.
II. Dapur
induksi frekuensi tinggi, dapur ini terdiri atas suatu kuali yang
diberi kumparan besar di sekelilingnya. Apabila dalam kumparan dialirkan arus
bolak-balik maka terjadilah arus putar didalam isi dapur. Arus ini merupakan
aliran listrik hubungan singkat dan panas yang dibangkitkan sangat tinggi
sehingga mencairkan isi dapur dan campuran tambahan yang lain serta
mengkoksidasikannya.
Hasil akhir dari dapur listrik
disebut baja elektro yang bermutu sangat baik untuk digunakan sebagai alat
perkakas misalnya pahat, alat tumbuk dan lain-lainnya.
Sumber :
http://cukipz.blogspot.co.id/2011/01/cara-pembuatan-beton.html
http://tugas-mia19.blogspot.co.id/2015/03/proses-pembuatan-baja.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar